QUR’AN SUCI TERJEMAH & TAFSIR
Sebenarnya usaha menerbitkan Qur’an dan Tafsir Maulana Muhammad Ali terjemah Indonesia telah dirintis sebelum pecah Perang Dunia II. Yang pertama oleh bapak Hadji Oemar Sa’id Tjokroaminoto. Beliau mulai menerbitkan itu pada tahun 1928, dengan Kata Pengantar oleh bapak Haji Agus Salim.
Tebal: ciii + 1508 halaman
Harga: Rp. 120.000 (+ Ongkos Kirim)
- Teks arab dan terjemahannya terdapat pada kolom yang sejajar sehingga memudahkan pembaca mengetahui dan memahami setiap ayat secara langsung.
- Tafsir yang mendetail dengan referensi dari ulama dan pemikir klasik maupun modern.
- Mukadimah yang komprehensif tentang ajaran Islam dan riwayat penyusunan dan pengumpulan Al-Qur’an.
- Indeks yang lengkap tentang tema-tema yang dibicarakan dalam Al-Qur’an dan indeks kata dan kalimat arab.
- Komentar Kyai H. Agus Salim, Tokoh Nasional dalam Kutipan Pengantar dari Haji Agus Salim, hlm. Viii-ix, sbb:
“Adapun dengan salinan dan tafsir Maulwi Muhammad Ali itu tidaklah disajikan pembaruan Qur’an, dan tidak diadakan madzhab baru, yang diwajibkan ‘Taqlidnya’; melainkan yang disajikan itu semata-mata hasil pekerjaan seorang manusia Muslim terpelajar, yang menguraikan beberapa pendapatan yang dikumpulkannya dalam mempelajari beberapa banyak kitab tafsir dan lain-lain kitab daripada ulama-ulama Islam, dan salinan-salinan Qur’an dan pemandangan-pemandangan tentang Qur’an itu daripada pujangga-pujangga di dalam dan di luar Islam. Maka adalah yang sebagai itu satu alat pelajaran, untuk meluaskan pengetahuan agama belaka, yang sekali-kali tidak mengenai perkara ‘Ijtihad’ atau ‘Taqlid’”.
Kutipan Pengantar dari Haji Agus Salim
Tatkala pertama kali saya diajak bermusyawarah oleh saudara kita Haji Oemar Sa’id Tjokroaminoto tentang maksudnya dengan beberapa saudara bangsa kita daripada kaum Muslimin, akan mengusahakan salinan kepada bahasa Melayu daripada salinan dan tafsir Qur’an, karangan “Maulwi Muhammad Ali”, seorang kaum terpelajar Bangsa Hindi, yang telah beroleh gelaran M.A. dan LL.B., daripada sekolah-sekolah tinggi Inggris, pada waktu itu tidak sedap hati saya.
Tidak sedap! Tapi bukanlah karena isi salinan dan tafsir karangan pujangga Hindi itu. Pada waktu itu sudah lebih setahun saya kenal dan kerap-kerap muthala’ah (mempelajari) isi kitab itu, dan pada sebaik-baik pendapatan saya adalah karangan itu banyak keutamaannya, yang menjadi penerangan bagi pengertian Agama Islam, istimewa ajaran, pendidikan dan nasihat-nasihat yang terkandung di dalam kitab Allah itu. Dan sekali-kali tidaklah saya mendapati barang sesuatu, yang akan menyesatkan paham dan Iman Keislaman kepada seseorang pembaca, yang membaca dengan memakai pikiran dan pengertian yang sederhana. Baca Lanjutannya…

